Future Fate

“Sekarang kita sedang mewawancarai artis beken tahun ini, Amagi Takagi!”

“Hahaha! Apanya yang beken?! Wartawan suka kayak gini nih, ngaco!” jawabku sambil tertawa mendengar perkataan si pewawanca tadi. Dia ikut tertawa kemudian mulai menanyaiku beberapa hal.

Aku memang Amagi Takagi, seorang model sekaligus aktor yang sedang naik daun karena album pertamaku sebagai penyanyi laris di pasaran. Sekarang umurku 20 tahun hampir lulus S2 di fakultas kedokteran sebuah Universitas ternama. Terlebih lagi karena mata dan rambutku yang asli kecoklatan, aku jadi memiliki banyak fans wanita. Hidup yang sempurna, pasti begitu menurutmu. Tapi tidak juga sih, karena jadi orang yang dikenal itu susah. Kemana-mana diikuti, capek!

“Ngomong-ngomong, karena masih dalam suasana valentine nih. Apa sekarang kau sedang punya gebetan?”

“Lagi nggak ada kok” jawabku santai. “Ah yang benar~” wartawan itu menggodaku. Aku tetap tersenyum tenang karena tak ada yang kusembunyikan saat ini.

“Lalu, kau percaya cinta pada pandangan pertama, tidak?” “Hmm…” aku menggumam sebentar “Sedikit percaya sih. Soalnya belum pernah terjadi padaku”

“Kalau cinta karena takdir?” tanyanya lagi. “Kalau ini aku percaya 100%. Pernah terjadi padaku sekali soalnya”

“Wah, unik nih! Biasanya orang-orang lebih banyak percaya cinta pandangan pertama. Bisa kau ceritakan pengalamanmu tentang yang satu ini?”

“Boleh saja” jawabku kemudian aku menghela nafas.

“Begini…”

-

-

-

Pikiranku kembali ke masa SMA, tepatnya sehabis mendaftar di SMA yang akan kumasuki di tahun ajaran barunya saat itu. Setelah itu aku jogging seperti biasa yang kulakukan diwaktu senggang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Lalu aku berjalan menuju sebuah cafe untuk mengisi perut sejenak.

“Nasi goreng sama soft drink satu ya” ucapku. Kemudian aku tinggal menunggu pelayannya membawakan pesanan. Tiba-tiba seseorang menabrakku pelan. Ia langsung saja berkata maaf. Dari suaranya saja aku langsung tahu kalau itu adalah seorang wanita.

Setelah pesananku siap, aku mengambilnya, membayar, kemudian mencari tempat duduk kosong. Aku menyeruput minumanku lalu menyendok makananku tak sabar. Namun, tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Seperti suara wanita yang menabrakku tadi, pikirku.

“Kau percaya takdir tidak?” katanya. Aku yang duduk tak jauh darinya langsung menoleh, merasa bahwa ia sedang berbicara padaku karena tidak ada lagi yang duduk didekatnya selain aku. “Ha?” hanya ucapan heran tersebut yang keluar dari mulutku. Seorang yang belum kukenal tiba-tiba bertanya begitu padaku.

Wanita itu kemudian menoleh. Perempuan itu cantik menurutku. Rambutnya yang hitam berkilau sedikit bergelombang indah berlawanan dengan kulit putihnya yang terlihat halus. Mata bulat berwarna sama dengan rambut miliknya menatapku. Itulah pertama kalinya aku menyadari wajah ovalnya dengan pipi tembam merona kemerahan, alis yang melengkung sempurna, bibir merah jambunya yang tipis serta bulu matanya yang panjang melentik keatas membuatku semakin tak bisa mengalihkan pandanganku darinya. “Minami Akagi, itu namaku” ujarnya seakan bisa membaca pikiranku “Kau pasti merasa aneh, kan? Tiba-tiba ada orang tak dikenal yang bertanya begitu padamu. Makanya aku memperkenalkan diri.” kemudian ia tersenyum dan tertawa kecil.

Manis, begitu pikirku. Tapi tetap saja ada satu kata yang terlintas dibenakku tentangnya saat itu “Kau aneh.” kataku padanya, terdengar sedikit ketus. Aku kemudian menyendokkan pesananku karena perutku semakin memberontak sepertinya.

Dari ekor mataku dapat kulihat ia menatapku terkejut. Lalu kembali tersenyum, benar-benar aneh. “Aku akan menjadi teman sekelasmu tahun ajaran ini. Salam kenal ya” ucapnya lagi semakin membuatku tak mengerti.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau kita satu sekolah? Dan lagi, pembagian kelas kan ditentukan saat pidato awal tahun??” tanyaku heran tapi masih tetap asyik sendiri melahap santapan dihadapanku. Gadis itu tertawa, lagi-lagi “Aku sudah tahu itu dari lama sekali. Aku…bisa melihat masa depan.” katanya. Spontan saja aku terbelalak. Kaget sekaligus takjub.

“Wow! Bagaimana bisa?? Apa saja yang sudah kau lihat?” tanyaku mulai bersemangat.

Ia menggeleng “Aku juga tak tahu dari mana bisa punya kemampuan kayak gini.” kemudian tersenyum lagi menatapku “Aku sudah melihat pertemuanku denganmu disini, kita akan masuk di SMA yang sama dan sekelas, dan kau jadi suka padaku.”

Aku terbatuk parah mendengar ucapannya yang terakhir. Ia yang panik langsung menyodorkanku segelas air putih miliknya yang langsung kutenggak habis. “Ap-apa??” hanya itu yang bisa kukatakan sesaat setelah aku bisa berbicara lagi. “Ngaco ah” kataku tak percaya.

“Terserahmu kalau tak percaya” jawabnya tenang lalu kulihat ia berdoa dan menyendok makanannya juga.

“Kalau kau bisa melihat masa depan, apa kau bisa…..melihat kematian juga?” tanyaku tanpa sadar.

Ia menggeleng “Kematian hanya bisa dilihat Sang Pencipta. Kalau aku bisa melihatnya, paling juga hanya sedikit pertanda.” ujarnya.

“…..” kembali ku terdiam sambil menyendok makananku sampai habis. Sesudah itu aku menyeruput minumanku dan berencana pergi dari tempat ini secepatnya. Tapi, tetap saja aku penasaran. “Kau serius ama omonganmu? Atau, kau cuma kelewat geer kali! Karena suka padaku ya?” kataku sambil nyengir menggodanya.

Pipinya memerah. “Da-dasar cowok!” ucapnya masih malu “Kalau kau tak percaya, lihat saja nanti apa ucapanku benar atau tidak!” tantangnya “Dan jangan panggil aku ‘Kau’. Aku punya nama.” katanya sambil merengut layaknya anak kecil yang memaksa dibelikan permen.

“Iya, iya, Minami kan?” aku masih menunjukkan cengiranku lalu mengacak rambutnya seperti dia adalah seorang sahabat lama. “Aku baru tahu kalau ternyata kau itu baik. Karena aku tak mau melihat apapun tentang sifatmu. Nggak seru juga kan kalau kau sudah tahu isi dari sebuah kado kejutan?” gadis itu tersenyum lebar membuat jantungku berdebar tak karuan sedikit. Benar kok hanya sedikit.

“Ok, aku pergi duluan ya” ujarku padanya seraya melambai sebentar dan kemudian dibalas olehnya. Kemudian aku berjalan pulang setelahnya.

-

-

Lama-lama aku sadar kalau apa yang pernah dikatakannya itu benar. Dia yang bisa melihat masa depan. Mulai dari aku dan dia yang masuk ke SMA yang sama, kelas yang sama, kemudian kami menjadi akrab, dan sebagainya. Bahkan sampai dimana aku benar-benar jatuh hati padanya. Sekarang kami sudah memasuki semester 2 di kelas 1 yang artinya sebentar lagi pembagian kelas lagi.

“Minami, kau bisa melihat tidak? Hasil pembagian kelas?”

“Kita akan tetap sekelas kok” jawabnya. Apa aku merasa sedikit tenang karenanya?

Aku menyatakan perasaanku padanya saat kenaikan kelas. Dan tentu saja ia juga menerimaku.

“Aku menyukaimu bukan hanya karena takdir yang sudah kulihat. Tapi aku jadi benar-benar menyukaimu karena segala kebaikanmu” begitu katanya saat itu. Aku mengangguk, merasakan hal yang sama dan memeluknya.

-

Sejak itu, aku dan Minami pacaran sampai 1 tahun lebih. Sampai tiba-tiba, aku merasakan keanehan dalam dirinya. Jika kutanya soal masa depan yang dilihatnya, dia suka menggodaku dengan berkata “Rahasia.”. Lalu, terkadang aku melihatnya melamun dengan sorot mata kesedihan. Sampai akhirnya aku benar-benar sadar apa yang terjadi padanya di akhir tahun terakhirku di SMA.

Minami tidak masuk hampir sebulan karena sakit.

Begitu kata para guru yang mengetahuinya. Teman-temanku juga tak ada yang tahu betul. Sahabat wanitanya berkata kalau ia dirawat di rumah sakit di luar negeri. Kuhubungi dia setiap hari.

Tidak aktif. Aku kesal, frustasi saat itu.

Hingga hari itu tiba.-

“Tuuut…Tuuuttt…” KLEK. Diangkat!

“Ha-halo?” aku mencoba memberi salam dengan sedikit gugup.

“Ya?” jawab suara diseberang sana. Wanita paruh baya sepertinya.

“Hng…Minami, Minami Akagi ada?”

“…..” yang kudengar hanya keheningan sesaat kemudian ibu itu menjawab “Ini…Tuan Amagi?” tanyanya.

“I-iya”

“Pacarnya nona Minami…,kan?” tanyanya lagi lebih hati-hati.

“Iya” ada apa ini? Firasatku berkata akan ada hal buruk yang terjadi.

“Nona baru kembali dari Rumah Sakit di Swedia. Tuan boleh datang berkunjung siang ini. Tapi sebaiknya, jangan membawa banyak orang karena nona masih kurang sehat.” Aku mendengarnya dengan seksama. Agak tenang rasanya setelah mengetahui kalau aku bisa bertemu dengan Minami. Setelah wanita tersebut selesai berbicara, aku mengucapkan terima kasih dan memutus sambungan. Kemudian bergegas bersiap untuk berangkat. Tak lupa aku membeli se-paket buah-buahan sebelum pergi ke rumah Minami.

-

TING TONG.

Kupencet bel rumahnya yang luas itu. Semua orang langsung tahu kalau dia anak konglomerat jika melihat rumah berwarna abu ini sekali saja. “Tuan Amagi ya?” tanya seorang wanita. Aku mengangguk mengiyakan “Saya pelayan disini. Dan orang yang mengangkat telepon tuan tadi.” katanya.

“Minami ada, bu?” tanyaku. Raut mukanya langsung berubah muram.

“Tuan masuk saja dulu. Tuan besar sedang pergi.” katanya seraya membukakan pagar untukku. Aku tahu kalau Ibu Minami sudah lama tiada dan sekarang ia hanya hidup dengan ayahnya dan beberapa pelayan. Aku dipersilahkan duduk. Rumah ini benar-benar sunyi, begitu pikirku. Setelah disuguhkan minuman, wanita tadi duduk di sofa dekatku.

“Sewaktu dirawat disana, nona sering mengigau nama tuan. Beliau juga sering bercerita tentang tuan pada saya yang menjagai nona terus. Nona terlihat bahagia sekali saat bercerita tentang tuan.” air matanya mulai menggenang.

“Mi-minami sakit apa, bu?” tanyaku mulai tak sabar. Rasa cemas semakin menggelutiku.

“Mungkin nona tak mau tuan sedih, makanya ia tidak ingin bertemu dengan tuan saat sakit begini” kemudian wanita itu mengajakku kekamar Minami. Sesampainya disana ia mengetuknya.

“Iya, masuk” kudengar suara yang kukenal baik itu kini terdengar lirih dari balik pintu. Sembari membukakan pintu ia akhirnya menjawab pertanyaanku tadi.

“Nona menderita gagal ginjal dan sekarang sedang dalam tahap kritis..Tapi, entah karena apa, nona minta dipulangkan.” Mataku melebar sedetik setelah perkataannya. Kulihat jelas dibalik pintu itu seorang gadis yang sudah pucat terbaring lemah di ranjangnya dengan infus disampingnya. Gadis itu pun menoleh padaku dan melayangkan pandangan yang sama sepertiku. Terkejut.

“A-ama…” mulutnya kering. Bahkan tak bisa mengucapkan namaku dengan baik saking terkejutnya. Aku melangkah pelan kearahnya. Kurasakan tubuhku bergetar hebat setelah mendengar kata-katanya tadi. Kucapai pinggir tempat tidurnya dan kutatap ia dalam-dalam.

“Kenapa…? Kenapa kau tak bilang apapun padaku?!” tanyaku dengan nada meninggi. Ia menatapku tak berkedip hingga air mata jatuh dari ujung matanya.

“Maaf…maaf……..maaf..” hanya kata itu yang diucapkannya padaku. Lututku bergetar. Dalam sekejap aku sudah jatuh berlutut disampingnya

“Aku yang seharusnya minta maaf, bodoh” air mataku ikut turun bersamaan dengannya “Aku yang harusnya minta maaf karena nggak memperhatikanmu lebih awal. Aku cuma butuh penjelasan darimu…tolong” Minami bungkam sejenak.

Tak lama, kudengar suara lirihnya yang masih terdengar bijak berkata padaku. “Aku minta maaf. Aku udah bohong padamu yang bilang bahwa aku tak mau melihat masa depan dan merahasiakannya darimu. Aku nggak mau kau ikut sedih karenaku…seperti ini”

“Tapi kalau kau pergi lebih dulu, aku bisa lebih sakit lagi dari ini!” teriakku kalut. Ia mengangkat telunjuknya dan meletakkannya didepan bibirku.

“Berhubung kau sudah berkunjung kemari, gimana kalau kau baca saja suratku untukmu.” ia menampakkan senyuman itu lagi. Namun dengan aura kesedihan yang pekat. Aku mengangguk dan mengambil surat di tempat yang ditunjuknya, meja di samping tempat tidur. Kubuka dan kubaca pelan isinya. Disana tertulis kalau aku pasti akan membacanya saat ia sudah tak ada lagi didunia ini. Serta semua ucapannya tadi, penjelasan yang kumau ia untuk ucapkan.

“Apa…apa maksudnya ini?” aku tertawa menyindirnya “Kau akan tetap disini bersamaku, kan?” Ia memalingkan wajahnya. “Jawab, Nami!” aku memanggil nama kecilnya dengan kasar.

“Maaf…” tubuhnya bergetar hebat sambil terisak menahan tangis yang sudah meledak “Maaf, aku nggak tau, Amagi”

Kugenggam erat kedua tangannya “Jangan pergi. Kumohon…” Ia menarikku mendekat. Dan kurasakan bibirnya menyentuh bibirku dalam beberapa detik.

“I gave you my first kiss, You give me your love. But this time i want you to be happy even when i’m gone. Please, be happy like your own, without me (Aku memberimu ciuman pertamaku, kau memberiku cintamu. Tapi kali ini, aku ingin kau untuk bahagia meski aku tiada. Kumohon berbahagialah seperti yang kau mau, tanpaku)”

Aku menggeleng cepat “Nggak! Aku nggak bisa bahagia kalau kau tak ada, bodoh!!”

“Tolong, kali ini aku ingin mendengarmu berkata…bahwa kau bisa bahagia meski tanpaku…kumohon..” ia mencengkram tanganku. Nafasnya satu-satu sekarang.

Aku tak pernah bisa melawan kehendaknya. Tak ada pilihan lain untukku saat itu selain menuruti keinginannya. Semuanya agar dia bahagia “Yes, my love, I’ll search for my happiness even…without…..you (Baiklah, kekasihku, akan kucari kebahagiaan mesti tanpamu)” air mataku mengalir lebih deras setelah berkata demikian. Segaris senyum bahagia dan bersyukur tampak diwajahnya. Kemudian matanya menutup bersamaan dengan genggaman tangannya yang dingin melemah dan menghilang.

Pelayan yang tadi melihatnya langsung panik menghubungi ayah Minami. Aku masih tertunduk, mematung disampingnya. Teringat olehku akhir surat yang ditulisnya tadi. Sama dengan ucapan terakhirnya itu. Ia ingin aku berkata seperti itu karena egonya. Katanya, dia takut akan membebaniku terus. Dia cuma tak mau berdosa! Pasti begitu!, pikirku benar-benar kesal dan marah saat itu. Air mata ini rasanya tak bisa berhenti mengalir untuknya. Mataku membengkak parah sampai beberapa hari setelah pemakamannya. Saat itu, aku merasa seperti cewek, lemah tak berdaya karenanya.

Maaf aku sudah egois untuk memintamu berkata begitu untukku.

(Sejujurnya aku juga nggak mau kau berkata begitu. Aku bisa cemburu tau :) he he he, bercanda)

Tapi, aku sudah tahu betul sifatmu. Kalau tidak begini, pasti dimasa depan, disaat kau akan mencintai orang lain selain aku, kau pasti akan merasa bersalah padaku.

Aku yang akan selalu mencintaimu, Minami Akagi.

-

-

-

“Tapi, aku sadar kalau dia ngelakuin itu supaya aku bisa mencintai orang lain lagi setelah dia pergi” ucapku mengakhiri cerita masa lalu tersebut.

“Benar-benar mengharukan” wartawan lelaki itu menatapku seperti prihatin, tapi aku tak begitu peduli. Kami berbincang lagi sejenak sampai ia mengakhiri wawancara hari ini.

Kulihat jam tanganku. 15 Februari. Cepat-cepat aku beranjak menuju toko bunga. membeli seikat bunga Sakura untuk pergi kesuatu tempat.

-

“Hai, Minami!” sapaku ceria padanya “Nggak cocok ya karena aku cowok?” aku nyengir dan meletakkan seikat bunga itu diatasnya. Tepatnya diatas nisan dimakam bertuliskan Minami Akagi itu. “Apa kabar? Udah 3 tahun lebih ya kau pergi. Aku jadi teringat masa itu lagi”angin kemudian berhembus seakan-akan itulah jawaban darinya “Tadi aku diwawancarai, terus aku cerita tentang kita. Eh, aku baru nyadar lho kalau kau itu cinta pertamaku! Dan lagi, apa itu ciuman pertamamu?! Itu juga ciuman pertamaku, bego” aku berkata demikian layaknya ada dia yang akan terus menjawab oceahanku.

Lelah berbicara, aku berdoa untuknya kemudian berjalan pergi “Aku pergi dulu ya.” kataku padanya.

-

Setahun kemudian aku kembali mengunjungi makamnya bersama seorang wanita. “Perkenalkan namanya Ai Minami. Dia punya marga yang sama denganmu lho” kataku. Lalu gadis disampingku ini meletakkan seikat bunga Sweet Pea didekat bungaku.

“Hai, Akagi-san. Salam kenal, namaku Ai Minami. Minami itu cuma margaku kok. Karena saya orang jepang, makanya sebaiknya saya memanggil anda dengan marga saja ya? Ehm… apalagi ya?” gumam perempuan itu bingung.

“Dia kekasihku yang sekarang” ujarku yang langsung mendapat pukulan lengan pelan dari Ai.

“Huss! Nanti Minam—maksudnya Akagi-san bisa marah lho!!” katanya takut. Aku tertawa melihat tingkah Ai. Wanita yang mungkin akan menjadi pengganti Minami didunia ini satu-satunya.

“Dasar kikuk. Kalau Minami sih setahuku bakal lebih senang kalau dipanggil dengan nama kecilnya.” aku menjelaskan sifatnya pada Ai. kemudian kami berbincang sebentar disana seperti ritualku ditahun-tahun sebelumnya. Bedanya Ai ikut menemani kali ini. Udara rasanya bertiup hangat di musim dingin kala itu bagi kami.

-

Tahun berikutnya, aku kesana lagi bersama Ai untuk memberitahu bahwa bulan July kami akan menikah. Ai masih tampak malu dan segan didepan makammu. Kau merestui kami kan, Nami?

Setiap tahun aku akan terus mengunjungimu, sampai aku memiliki anak kembar yang kuberi nama Akagi Takagi untuk si kakak kembar lelaki, dan Minami Takagi untuk si adik kembar wanita. Keduanya kuambil dari namamu. Ai tidak keberatan dan malah senang sekali mendengarnya.

Ai yang sekarang sudah berubah nama menjadi Ai Takagi tampak senang melihatku yang juga bahagia menatap pusaramu yang mulai tua namun terus didatangi oleh semakin banyak orang. Aku baru sadar kalau bunga Matahari adalah karangan bunga dari ayahmu. Aku membawa serta si kembar setiap kali berkunjung kesana. Akagi membawa mawar sedangkan Minami membawa melati.

Setiap tahun itu kulakukan. Tak pernah sekalipun aku lupa padamu. Bahkan hingga aku mulai menua. Aku, Ai, dan dua anakku terus berkunjung kesana. Pernah sekali aku berjumpa juga dengan ayahmu dan kami berbincang sejenak.

“Aku sekarang sudah jadi dokter bedah yang lumayan sukses lho! Terus karirku sebagai entertainer juga tak kalah maju! He he he” terkadang aku cengengesan dan bercerita layaknya anak kecil ditempatmu. Kau tak keberatan kan?

From me, the one who will always love you, Amagi Takagi.

(Dariku, orang yang akan selalu mencintaimu, Amagi Takagi)

END

gimana gimana gimana? xDD

pembuatannya makan waktu nggak lebih dari 2 hari lho! nah, kalo gitu silahkan review~~

(malu ngebikin cerita cinta mulu >///<;; nggak cocok ah sama sifatku kali ya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.